Dia berkata, Bagaimana mungkin seorang mukmin merasa sedih dan berputus asa dalam hidupnya sedangkan ia memiliki Allah dalam hidupnya, yang dia mencintaiNya dan Allah lebih mencintainya, yang selalu menjaganya di pagi hari, siang, sore dan malam harinya dan mellihat dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang.
Tetapi aku berkata kepadanya :Bagaimana mungkin seorang mukmin terus bahagia ketika dakwah sudah tak menjadi tujuan hidupnya, dan bagaimana seorang mukmin tidak menangis ketika kefuturan menggerogoti imannya..

0 komentar:
Poskan Komentar